Senin, 21 April 2014

Kekerasan seksual pada anak...never ending story.



Hampir dua pekan ini pemberitaan di televisi ramai dengan kasus pelecehan seksual terhadap anak TK di JIS, sebuah sekolah bertaraf internasional dan mengutip kata Pengacara Hotman Paris Hutapea yang keamanannya setingkat pengamanan istana presiden. Hal itu tidak membuat pelaku pedofil takut atau kekurangan cara untuk beraksi mengingat mereka masuk lewat outsourcing agent untuk Cleaning Service. Sangat tidak beradab perbuatan keji yang dilakukan orang dewasa pada anak TK yang masih polos dan tidak dapat dipungkiri hal itu meninggalkan trauma fisik dan psikis pada korban. Butuh waktu lama untuk hidup secara normal dan melupakan kejadian itu bagi si korban. Untuk kesekian kalinya kejadian kekerasan seksual pada anak terjadi di tengah-tengah kita dan semuanya terbongkar ketika si anak menunjukkan perubahan perilaku menjadi pendiam, histeris atau perubahan fisik pada tubuh korban khususnya pada area tertentu. Sehingga pada level ini semua telah terlambat karena kekerasan seksual itu telah terjadi…

Selalu timbul pertanyaan pada benak saya. Apa yang ada diotak pelaku? Kenikmatan seperti apa yang dirasakan setelah melukai seorang anak kecil sekaligus merusak masa depannya? Apakah mereka tidak menyadari peran mereka sebagai orang dewasa yang seharusnya melindungi tumbuh kembang anak-anak? 

seksual, sebuah kata yang cukup tabu untuk dibicarakan di tengah  keluarga Indonesia meski pergeseran nilai merambah semua aspek kehidupan tapi untuk topik yang satu ini masih sangat sensitif terlebih kepada anak-anak. Teringat beberapa tahun yang lalu ada seorang teman perempuan menjelang pernikahan masih kebingungan ketika harus menghadapi malam pertama. menunjukkan betapa minimnya informasi seputar seks. Tabu untuk dibicarakan tapi akan menjadi penyesalan ketika terjadi ketika seseorang mengalami hal buruk akibat ketidaktahuannya dan pada hal ini seorang anak yang membiarkan orang dewasa melakukan pelecehan seksual pada dirinya. Anak belum memahami apapun di dunia tanpa informasi yang masuk ke dalam benaknya, dia akan menganggap orang yang memberikan permen atau kue sebagai orang baik, menyentuhnya atau memeluknya sebagai wujud sayang kepada dirinya tanpa menyadari bahwa hal itu bisa disalahartikan oleh orang tak bertanggungjawab. Alih-alih memberi permen ternyata alasan untuk membawanya kabur, menyentuh anak di pipi atau tangan itu wajar tapi ketika menyentuh ke area pribadi sudah menjadi hal fatal sehingga sejak anak masih dini hendaknya diberikan informasi. 

Informasi sederhana: Nak, tidak boleh menerima pemberian permen, uang atau kue secara sembarangan dari orang yang tidak dikenal atau pun orang dewasa lain jenis. Ingat, ada banyak kasus Phedopil (kekerasan seksual pada anak) terjadi ketika pelaku memberikan permen atau uang jajan seribu, dua ribu pada anak sebagai pembujuk agar mengikuti hawa nafsu pelaku dan tutup mulut. Tak kalah penting adalah memberikan informasi pada anak bahwa tubuhnya adalah barang berharga yang tidak boleh sembarangan disentuh oleh orang lain.Untuk anak perempuan, ada bagian tubuh yang tidak boleh sembarangan disentuh bahkan oleh Ayah, saudara laki-laki apalagi oleh orang lain. Hal yang sama juga berlaku untuk anak laki-laki bahwa ada area pribadi yang tidak boleh disentuh oleh orang lain... 
Hal-hal tersebut bukanlah jaminan bahwa anak akan terlindungi dari ancaman bahaya kekerasan seksual dari para pelaku yang tidak bertanggung jawab tapi setidaknya memberikan informasi dini pada anak untuk lebih aware pada keamanan dirinya.

Jumat, 04 April 2014

Pemilu... sebentar lagi!

Pemilu sudah dekat, tinggal beberapa hari lagi bangsa Indonesia akan merayakan pesta demokrasi dengan memilih wakil rakyat mereka di badan legislatif. sudah beberapa minggu ini setiap kali kita keluar rumah akan didapati stiker, baliho dari banyak calon legislatif yang maju di putaran pemilu nanti. tak ada satupun yang ku kenal, meski wajah-wajah berbagai ukuran semakin tangkas memenuhi jalanan, dinding tak bertuan, bahkan pagar seng proyek pembangunan pun tak luput dari serbuah poster poster itu... hem, jadi pengin tau berapa duit yang sudah mereka korbankan untuk menjadi calon legislatif?
kita tau, menjadi anggota dewan bukan sekedar gengsi, martabat, uang tapi juga kekuasaan sehingga tak jarang harus mengorbankan banyak hal untuk mencapai posisi itu. tapi kok, sebagai rakyat biasa sepertinya tak ada satu pun yang saya kenal sehingga membuat saya gamang akan memilih. mau milih yang mana? apakah benar akan ada perubahan setelah mereka duduk di kursi dewan? apakah mereka masih akan mengingat janj-janji  ketika sedang berkampanye?
apakah salah ketika saya sampai saat ini belum memiliki keputusan untuk memilih siapa dan partai apa?
pada dasarnya sangat simpel harapan saya kepada negara besar ini, semoga menghasilkan wakil rakyat yang pro rakyat. berjuang demi rakyat bukan demi kepentingan golongan apalagi kepentingan pribadi, datang untuk berdebat demi memperjuangkan rakyat bukan memperjuangkan berapa digit yang akan mereka peroleh, lelah rasanya melihat para wakil rakyat yang tertidur ketika sedang rapat,sedangkan yang tidak tidur sibuk nonton film yang membuat mata mereka melek tapi mengalihkan mereka dari materi rapat. dengan gambaran anggota dewan seperti itu masih pantaskah kita memberikan suara dan memilih anggota dewan terhormat yang tidak saya kenal dan pastinya tidak akan memperjuangkan penderitaan kami sebagai rakyat kecil yang terabaikan di negara sendiri?

oase jiwa itu di rumah kayu sederhana

pada awal bulan desember 2013, aku ikut hubby ke areal. pekerjaan suamiku adalah di hutan... bukan di kantor yang nyaman dengan fasilitas pendingin ruangan dan duduk di kursi empuk. tidak ada kepastian tempat, durasi kerja karena dalam rentang beberapa bulan akan di rotasi sehingga membuat aku agak kesulitan. tapi untuk kesempatan kali ini, aku setuju ikut dan mengontrak di sebuah rumah toko di tepi jalan berdebu yang selalu dilintasi truk pengangkut kayu, suara motor yang menderu-deru. 
awalnya aku sibuk sendiri dengan urusan rumah tangga dan berusaha menyiasati belanjaan tanpa adanya kulkas, ketiadaan kedai penjual sayuran dan pasar yang beroperasi (mereka menyebutnya hari pasar) hanya pada hari minggu dan hari kamis... aku terbiasa belanja per berapa hari ketika masih di kota dan ternyata hal itu pun terbawa ke sana sehingga tak jarang aku terpaksa harus membuang sayuran yang membusuk karena tidak disimpan di lemari pendingin. sementara untuk tahu bisa aku pertahankan sampai dua hari karena aku rebus dan keesokan harinya aku mengganti airnya dengan air panas yang baru. hingga satu hari, tetangga rumah yang suaminya berprofesi sebagai tukang tambal ban dan rumahnya berdinding kayu menawariku untuk menitipkan belanjaanku di kulkasnya. 
awalnya aku segan dan menolak tapi mengingat situasi yang terdesak akhirnya aku setuju dan berbagi lauk yang aku miliki... dan selalu ditolak sehingga sering aku masak dulu baru aku kirimkan. namun hal itu menjadi perdebatan di antara kami karena mereka keberatan kalau aku sering memberikan lauk, takutnya akan membuat marah suamiku karena menghabiskan uang untuk diberikan kepada mereka... bicara soal uang untuk membantu biaya listrik mereka adalah hal yang tabu. akhirnya aku mengurangi berbagi lauk kepada mereka tapi menggantikan dengan membelikan jajan buat anak perempuan mereka yang berusia 4 tahun dan sudah lengket karena tiap hari main dan bercanda bersamaku. 
orang asing yang kukenal di tanah rantau, jauh di sudut sumatera .... di sebuah desa bernama Talontam. desa kecil di seberang sungai Kuansing. kini menjadi sedekat saudara sendiri ... kita memang tidak bisa menilai karakter seseorang dari penampilan luarnya. siapa mengira rumah berdinding kayu dan bermata pencaharian sebagai penambal ban sepeda motor dan isi angin itu memiliki hati seluas samudera? mereka berbuat baik tanpa pernah ada pamrih dan ketika memberikan satu piring mereka akan berusaha berbuat baik kepada kita sepuluh kali lipat dari apa yang sudah kita berikan. 
kenyataan yang sungguh bertolak belakang dengan kehidupanku di kota, bertetangga dengan begitu banyak ragam manusia dengan beragam latar belakang dengan kehidupan yang berkecukupan namun tak ada yang mampu memukau hatiku seperti sebuah keluarga sederhana yang tidur tiap berhimpitan beralaskan tikar karena tak mampu membeli kasur... memiliki hati yang begitu luas dan mengijinkanku masuk ke rumahnya setiap hari bukan hanya sekedar menitipkan bahan makanan tapi menemukan keluarga baru dimana tiap hari aku bisa berbagi tawa canda. menjadi oase di tengah kesepian yang melanda ketika seseorang baru menginjakkan kaki di tempat yang baru, dengan bahasa yang baru dan orang-orang baru. sebuah keramahan yang menyejukkan nan menetramkan ....