pada awal bulan desember 2013, aku ikut hubby ke areal. pekerjaan suamiku adalah di hutan... bukan di kantor yang nyaman dengan fasilitas pendingin ruangan dan duduk di kursi empuk. tidak ada kepastian tempat, durasi kerja karena dalam rentang beberapa bulan akan di rotasi sehingga membuat aku agak kesulitan. tapi untuk kesempatan kali ini, aku setuju ikut dan mengontrak di sebuah rumah toko di tepi jalan berdebu yang selalu dilintasi truk pengangkut kayu, suara motor yang menderu-deru.
awalnya aku sibuk sendiri dengan urusan rumah tangga dan berusaha menyiasati belanjaan tanpa adanya kulkas, ketiadaan kedai penjual sayuran dan pasar yang beroperasi (mereka menyebutnya hari pasar) hanya pada hari minggu dan hari kamis... aku terbiasa belanja per berapa hari ketika masih di kota dan ternyata hal itu pun terbawa ke sana sehingga tak jarang aku terpaksa harus membuang sayuran yang membusuk karena tidak disimpan di lemari pendingin. sementara untuk tahu bisa aku pertahankan sampai dua hari karena aku rebus dan keesokan harinya aku mengganti airnya dengan air panas yang baru. hingga satu hari, tetangga rumah yang suaminya berprofesi sebagai tukang tambal ban dan rumahnya berdinding kayu menawariku untuk menitipkan belanjaanku di kulkasnya.
awalnya aku segan dan menolak tapi mengingat situasi yang terdesak akhirnya aku setuju dan berbagi lauk yang aku miliki... dan selalu ditolak sehingga sering aku masak dulu baru aku kirimkan. namun hal itu menjadi perdebatan di antara kami karena mereka keberatan kalau aku sering memberikan lauk, takutnya akan membuat marah suamiku karena menghabiskan uang untuk diberikan kepada mereka... bicara soal uang untuk membantu biaya listrik mereka adalah hal yang tabu. akhirnya aku mengurangi berbagi lauk kepada mereka tapi menggantikan dengan membelikan jajan buat anak perempuan mereka yang berusia 4 tahun dan sudah lengket karena tiap hari main dan bercanda bersamaku.
orang asing yang kukenal di tanah rantau, jauh di sudut sumatera .... di sebuah desa bernama Talontam. desa kecil di seberang sungai Kuansing. kini menjadi sedekat saudara sendiri ... kita memang tidak bisa menilai karakter seseorang dari penampilan luarnya. siapa mengira rumah berdinding kayu dan bermata pencaharian sebagai penambal ban sepeda motor dan isi angin itu memiliki hati seluas samudera? mereka berbuat baik tanpa pernah ada pamrih dan ketika memberikan satu piring mereka akan berusaha berbuat baik kepada kita sepuluh kali lipat dari apa yang sudah kita berikan.
kenyataan yang sungguh bertolak belakang dengan kehidupanku di kota, bertetangga dengan begitu banyak ragam manusia dengan beragam latar belakang dengan kehidupan yang berkecukupan namun tak ada yang mampu memukau hatiku seperti sebuah keluarga sederhana yang tidur tiap berhimpitan beralaskan tikar karena tak mampu membeli kasur... memiliki hati yang begitu luas dan mengijinkanku masuk ke rumahnya setiap hari bukan hanya sekedar menitipkan bahan makanan tapi menemukan keluarga baru dimana tiap hari aku bisa berbagi tawa canda. menjadi oase di tengah kesepian yang melanda ketika seseorang baru menginjakkan kaki di tempat yang baru, dengan bahasa yang baru dan orang-orang baru. sebuah keramahan yang menyejukkan nan menetramkan ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar