Tak mudah mengeluarkan kembali semua lintasan peristiwa selama rentang hampir 6 tahun. Satu yang sangat saya syukuri, komunikasi diantara kami semakin membaik. Pengertian satu sama lain juga semakin membaik. Suami yang awal-awal adalah Masternya memporak porandakan rumah khususnya di depan TV dengan membentangkan koran hingga mengubah ruang tengah seperti barusan diterjang angin ribut... Orang yang selalu enggan menyikat kamar mandi, sekarang menjadi orang pertama yang memegang sikat kamar mandi dan menjadi ritualnya setiap hari ketika di rumah menyikat kamar mandi dengan Porstex padahal dulu ? hem... jangan berharap deh. Lihat kamar mandi menggenang karena saluran air tersumbat pun cuek aja, tapi sekarang? Mas Eka menjadi orang pertama yang heboh lihat airnya agak tersendat mengalir... langsung rebus air satu panci besar, menyiram saluran air dengan soda api lanjut disiram air panas yang fungsinya untuk menghancurkan semua sumbatan yang ada di dalam saluran pembuangan itu.
Memang waktu yang mengubah kebiasaan seseorang, tentu saja dengan pendekatan komunikasi yang lebih baik dari sebelumnya. Bukankah waktu yang akan mengubah segalanya? Waktu pula yang mengubah kami menjadi lebih memahami apa kemauan satu sama lain.
Tanpa pacaran, tanpa pendekatan intensif secara harfiah karena saat itu saya di Jawa dan Mas Eka di Sumatera. Bukan hal mudah ketika dua orang yang kontak via Hand Phone tiba-tiba menjadi suami istri, berbagi tanggung jawab,hidup bersama tanpa mengenal back ground masing-masing dan semuanya membutuhkan waktu.... sering ada ketidakcocokan, sering ada kesalahpahaman, sering ada miskomunikasi, sering menuntut lebih pada pasangan, mungkin semua hal itu yang membuat kami belum juga dikaruniai amanah. Selang waktu berlalu, semoga dengan lebih selarasnya hati kami, perbuatan kami yang ingin menyenangkan pasangan... akan berbuat manis pada keluarga kami.....
Membangun keluarga, tak pernah henti untuk berposes memahami pasangan. Beradaptasi dengan keinginan dan kebutuhan karena limited income. Semua proses itu tak terbatas pada komunikasi, pekerjaan rumah, berbagi tanggung jawab, Pendapatan, pengeluaran, tapi juga quality time.
Menjaga kualitas relasi dengan suami, tak jarang di akhir pekan setelah menjemput dari kantor. Kami mampir di Mall untuk sekedar jalan-jalan menikmati kebersamaan atau sekedar mencari cemilan. Hal yang sederhana tapi menambah romantisme dalam relasi kami yang sering pengap dengan kesibukan masing -masing di tempat kerja, kesibukan urusan domestik rumah tangga. Walau hanya 2 jam di Mall ternyata cukup untuk meningkatkan kualitas relasi kami .... Masih terus berproses untuk mengelola sebuah hubungan dengan suami. Hubungan dengan suami tak bisa hanya sebatas satu hubungan saja tapi meliputi beberapa peran sekaligus, sebagai istri, teman, kekasih, partner. Berubah peran sesuai dengan keadaan... tak mungkin kita berperan sebagai kekasih ketika suami sedang galau urusan kantor, Kami terbiasa share tentang masalah kantor dan saling memberi masukan atau kekuatan satu sama lain....
Ini hanya sebuah coretan kecil, refleksi perjalanan dari 14 juni 2009 sampai 7 september 2014. Bersyukur kepada Allah yang melingkupi keluarga kami dengan kehangatan cinta, kasih sayang, kepercayaan, saling mendukung satu sama lain..... Tak terhitung usaha yang telah kami lakukan untuk bisa meraih amana itu, tak terhitung biaya yang telah kami keluarkan dan tak jarang ditingkahi dengan pertengkaran karena Mas Eka enggan untuk melangkahkan kaki ke sebuah tempat untuk berikhtiar dan akhirnya aku menyerah dan membiarkan waktu yang akan menjawabnya. Tak ada gunanya berikhtiar tapi pasangan tak sepenuh hati mendukung hanya membuat waktu, tenaga dan uang saja...
Ya Allah berikanlah kami kekuatan untuk terus bersabar, dan mampu menjaga kesehatan hingga saatnya tiba Kau berikan amahan itu kepada kami. Aaamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar