sembari menunggu student, pikiran melayang pada berita kenaikan harga BBM yang sekarang meruak dimana-mana. apa yang terjadi ketika media sudah meniup-niup goisip kenaikan harga BBM ke tengah masyarakat, khususnya di Pekanbaru ini. Pagi tadi ketikadiks berangkat ke kantor, banyak SPBU memasang papan bertuliskan :`REMIUM HABIS`, membuat banyak pengendara harus mencari SPBU lain yang kemungkinan masih memiliki stok dan bersedia menjual itupun dengan syarat kendaraan masih memiliki stok bensin hingga ke SPBU terdekat. bagaimana jika di tangki, bensin tak mencukupi untuk mencapai SPBU lain... tak ada pilihan selain membeli eceran yang menjual dengan harga lebih tinggi dari SPBU.
Gosip....digosok makin siip. apalagi kalai gosipnya seputar BBM, menjadi bagian tak lepas dari kehidupan penduduk Indonesia terlebih yang menggunakan moda kendaraan setiap hari untuk beraktifitas sehingga BBM menjadi sepenting air dalam kehidupan manusia. kejadian antre BBM hingga mengular belasan meter dan tak jarang menimbulkan kemacetan sudah bukan barang baru. terlebih setiap menjelang ada keputusan kenaikan BBM.
Otak bodoh ini tak pernah memahami kenapa di negeri yang kaya minyak seperti Indonesia dan Riau ketersediaan BBM selalu menjadi hal yang tidak terselesaikan.
udah terbayang betapa kenaikan harga BBM ini akan memicu kenaikan harga disemua sektor. Mulai dari sembako, spare part, makanan jadi, harga baju....seperti efek domino yang akan menular ke semua sisi kehidupan dan lagi sebagai rakyat kecil yang alhamdulillah masih bisa mengais rejeki harus lebih pandai lagi membelanjakan gaji bulanan. Di tengah segala kenaikan harga yang tak bisa dihindarkan ketika harga BBM itu beneran naik, masih bersyukur karena masih diberikan keluasan rejeki untuk membayar hutang dan makan sehari-hari.... jangan harap bisa berlibur ke luar negeri meski harga pesawat a*r a**a sedang banting harga atau ikutan beli Samsung Galaxy... ngimpi aja penulis tidak berani. Penghasilan yang masuk stabil sementara pengeluaran belum bisa dikendalikan karena harga barang semakin naik... meski kami berdua sama-sama bekerja dan belum memiliki anak yang harus kami beri nafkah. tak berarti kami memiliki uang ekstra sehingga bisa belanja dengan sebebasnya... dari awal pernikahan kami mencoba untuk jujur tentang pendapatan masing-masing. di awal bulan kami menginventaris apa-apa yang harus kami bayar dan sisa berapa yang bisa ditabung.... biasanya ga pernah bersisa karena sering ada pengeluaran ekstra.
Kalau sudah kepepet ya mau ga mau harus memikirkan cara untuk mendapatkan ekstra income? tuing...tuing juga kepala ini jadinya...
Alangkah indahnya kalau harga BBM turun bukannya naik. Andai ah ah andai...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar